PART 4, JANGAN BERMAIN DENGANKU !!!

 PART 4

Image from google

Keadaan kampus terasa mencekam. Kuasa kegelapan sudah mulai menunjukkan taringnya. Beberapa waktu lalu, Anne dari Fakultas MIPA, ditemukan meninggal karena melompat dari lantai 7 kampus. Tidak ada yang dapat mempercayainya karena Anne adalah gadis yang periang di mata teman-temannya. Seminggu kemudian, Jean dari Fakultas Psikologi, ditemukan meninggal dalam keadaan mengenaskan karena kecelakaan. 


Tidak berhenti, kuasa kegelapan terus mengambil jiwa anak-anak muda di kampus. Satu-persatu meninggal karena bunuh diri atau kecelakaan. Dave dan teman-temannya begitu geram. Musuh sangat rapi dalam tindakannya sehingga mereka selalu tertipu.


Reihn mengumpulkan mereka semua. Keadaan sudah tidak dapat ditolerir lagi. Sudah sepuluh jiwa anak muda yang diambil dalam waktu berdekatan. Pengorbanan jiwa yang sangat sia-sia.


"Kak, apa yang harus kita lakukan? Ini sudah sangat memprihatinkan dan kita bahkan tidak mengetahui siapa pelakunya," kata Dave Xen, geram.


"Pelakunya adalah Bryan, asisten dosen di kampus. Ia mengikat perjanjian darah dengan kuasa kegelapan. Ibu Bryan menderita kanker usus stadium 3B. Bryan meminta kesembuhan dan kekayaan dengan cara menumbalkan jiwa anak kampus," jelas Reihn, marah.


"Ah, mengapa dia begitu tega. Mereka masih begitu muda. Hidup mereka masih panjang. Terhilang sia-sia untuk sebuah keegoisan," tukas Dave, geram.


"Begitulah mata yang telah ditutup. Kejahatan menjadi hal yang biasa. Satu-satunya cara untuk menghentikan ini adalah mendekati orang tua Bryan, dalam hal ini adalah ibunya. Berharap Beliau dapat menyadarkan Bryan dari jalan sesatnya. Kasih sayang tidak seperti itu. Bryan tidak menyadari bahwa ia menaruh bom waktu dalam hidup keluarganya. Besok aku, Dave, dan Jasson akan menemui Ibu Bryan. Yang lain tetap standby," jelas Reihn.


***

Menuju rumah Bryan ….


"Selamat siang. Bisa bertemu dengan Ibu Xia Mei? Kami teman kampus Bryan," sapa Reihn, sopan.


"Saya Xia Mei. Silakan masuk, Nak," jawab Xia Mei, ramah.


"Perkenalkan, Bu. Kami teman Bryan Xia di kampus. Maaf mengganggu waktu Ibu. Ada yang ingin kami sampaikan pada Ibu," jelas Reihn, lembut.


Reihn mulai menjelaskan apa yang telah dilakukan oleh Bryan. Apa tujuan dibalik semua tindakannya. Apa konsekuensi dari kesesatannya. Xia Mei terhenyak. Airmata mengalir deras dari wajahnya. 


"Maafkan kami telah menyakiti hati dan pikiran Ibu. Maafkan kami. Tujuan kami agar Bryan bertobat dan jiwa teman-temannya terselamatkan. Bryan harus memutuskan rantai tumbal ini," ucap Dave, menatap sedih.


"Ibu meminta maaf kepada kalian semua. Ibu gagal mendidik Bryan. Bagaimana mungkin anak itu mengambil jalan sesat seperti ini. Apa yang harus Ibu lakukan?" tangis Xia Mei, pilu.


Suasana hening. Satu sisi, Reihn tidak tega menyampaikan hal ini. Di sisi lain, hanya Xia Mei yang dapat menyadarkan Bryan sehingga rantai tumbal dapat dihentikan.


"Kami minta agar Ibu dapat membantu menyadarkan Bryan. Mengembalikannya ke jalan yang benar," ucap Reihn, lembut.


***

Bryan sampai ke rumahnya. Ia sangat bahagia. Bagaimana tidak? Kondisi kesehatan ibunya semakin membaik. Kekayaannya semakin banyak. Bryan ingin menyampaikan kabar bahagia ini secepatnya. Ia baru saja membeli sebuah rumah mewah untuk ibunya.


Bryan menemukan ibunya duduk dengan wajah sedih di teras belakang. Hatinya langsung bergemuruh. 


"Bu, mengapa duduk di sini?" sapa Bryan, lembut.


"Baru pulang, Nak? Duduklah di sini, Nak," jawab Xia Mei, menatap anak tunggalnya dengan penuh sayang.


"Ibu lelah? Bryan pijat ya."


"Ibu sedang sedih, Bryan. Ada seorang ibu yang mempunyai penyakit yang berat. Mungkin hidupnya tidak akan lama lagi. Hal itu membuat anaknya sangat menderita. Anaknya mencoba berbagai cara agar ibunya sembuh. Dalam kebodohannya, anak itu mengambil jalan yang sesat. Kebodohannya membuat banyak jiwa terhilang sia-sia dalam kebinasaan," ucap Xia Mei, menatap lekat Bryan.


Bryan terhentak. Apakah Ibu mengetahui apa yang telah diperbuatnya?


"Sungguh, hati ibu itu begitu terluka. Ibu itu menyadari besarnya kasih sayang anaknya. Di sisi lain, ia menderita. Ia hidup namun ditukar dengan jiwa yang lain. Sungguh, ibu itu sangat menderita," lanjut Xia Mei.


"Apa yang Ibu bicarakan? Berita itu hanya bualan para pemburu cerita kriminal. Lupakan saja, Bu. Ayo, kita makan. Ada yang ingin Bryan tunjukkan pada Ibu," kata Bryan, lembut.


"Bryan sayang, Ibu telah mengetahui apa yang telah kau perbuat. Ibu berterima kasih atas kasih sayangmu. Namun itu jalan yang salah, Bryan. Itu jalan yang sesat. Ibu minta kamu bertobat. Buang segala kesesatan itu, Bryan," kata Xia Mei, menangis.


Bryan terhenyak. Bagaimana mungkin Ibu mengetahui semuanya. Bryan sangat mengasihi ibunya. Apa pun permintaan ibu akan selalu diturutinya. Namun, bagaimana caranya pergi dari Amosh?


Tiba-tiba Bryan merasakan panas membara di sekelilingnya.  


"Kau tidak bisa pergi dariku, Bryan. Kau tahu itu," kata Amosh, menggelegar.


"Jumat ini aku akan mengambil Ibumu. Bersiaplah!" lanjut Amosh, tertawa terbahak-bahak dan pergi.


Bryan langsung pucat. Lenyap semua, apa yang dilakukan semuanya sia-sia. Kemana aku harus meminta pertolongan?


***

Di lain tempat, Reihn merasakan apa yang dirasakan oleh Bryan. Reihn menahan diri. Saat ini Amosh masih belum mengetahui kehadirannya. Reihn memanggil Jasson Long.


"Jasson, pergilah ke rumah Bryan. Bawa mereka secepatnya ke base camp. Kakak akan berikan perlindungan untukmu!" perintah Reihn.


Jasson langsung menuju rumah Bryan. Ia menemukan Bryan dalam keadaan kacau. Pandangannya kosong.


"Selamat siang," sapa Jasson.


Bryan mengangkat wajah. Ia terkesiap. Jasson adalah calon jiwa yang akan ditumbalkan jumat ini. Bagaimana mungkin ia tahu tempat tinggalnya. Sementara Jasson menatap Bryan lekat seakan mengatakan kalau ia telah tahu semuanya. 


"Aku tahu Amosh ke sini. Ketua kami meminta agar kau dan Ibumu segera berlindung di base camp dari Amosh," jelas Jasson.


"Kau, kau tahu tentang hal ini?" tanya Bryan, gugup.


"Cepatlah, Bryan. Pagar perlindungan ini tidak bisa lama. Segera bawa Ibumu!" perintah Jasson Long.


Bryan Xia langsung membawa ibunya untuk pergi bersama Jasson. Tidak lama kemudian, mereka sampai di base camp. Reihn telah menunggu mereka.


"Selamat datang, Ibu. Kita bertemu lagi, Bryan Xia," sapa Reihn, tersenyum.


Bryan menatap tidak percaya pada Reihn. Mereka bertemu lagi setelah sekian lama.


"Jasson, segera bawa mereka ke dalam ruang perlindungan," kata Reihn.


"Bryan, saya akan memasukkan kalian di dalam ruang perlindungan. Jangan pernah keluar dan jangan pernah memikirkan Amosh atau Ibumu akan celaka, Bryan," tukas Reihn, tegas.


Bryan Xia tidak berani memandang wajah ibunya. Ia hanya mengangguk pasrah. Yang terpenting adalah Amosh tidak dapat menemukan mereka.


***

Hari ini adalah hari terakhir penyerahan jiwa dari Josh. Ia sudah pasrah. Josh sama sekali tidak mencari jiwa pengganti. Ia sangat menyesal dan merelakan dirinya sebagai tumbal untuk memutuskan rantai kesesatannya. Selama Vallery dan anak-anaknya tidak ditemukan Amosh maka rantai tumbal itu akan terputus dengan pengorbanan jiwanya.


"Mana jiwa untukku?" tanya Amosh, menatap dengan matanya yang bersinar merah.


"Maafkan aku, Tuan Amosh. Aku tidak mendapatkan jiwa. Sejujurnya aku tidak mengerti mengapa saat ini sulit mendapatkan jiwa," kata Josh, memelas.


"Jangan berbohong! Kau pikir kepada siapa kau berbicara!" bentak Amosh.


"Aku akan menghancurkan kau, Josh! Kau mempermainkanku. Mengkhianatiku!" lanjut Amosh, menggelegar.


Seketika itu juga Amosh mengambil jiwa Josh. Josh mengalami apa yang dialami oleh Mira. Ia dibakar di dalam api yang sangat panas. Airmata penyesalan tidak ada gunanya. Berbagai ingatan akan dosanya melintas seperti film. Josh melihat bagaimana bibinya mengalami kesakitan karena ditumbalkan. Bibinya mengalami kecelakaan hebat. Tubuhnya terbakar karena mobilnya terjun ke dalam jurang. Terlintas bagaimana hancur hati pamannya karena tidak menemukan jenazah bibinya. Bagaimana pamannya melewati hari demi hari dengan penyakit kanker yang mengerogotinya. Lebih tidak masuk akal lagi ketika ia tega mengorbankan jiwa kakak kandung dan kakak iparnya. Mereka dibunuh dengan sadis oleh jawaban perampok. Josh merasa dirinya seperti binatang. Ia melihat wajah bahagianya ketika memperoleh banyak harta sebagai imbalan dari jiwa yang ditumbalkannya.


"Ampuni semua dosaku, Tuhan," pinta Josh di sisa hidupnya.


Amosh pergi diiringi suara tertawanya yang menggelegar. Jiwa Josh telah didapatkannya. Jiwa untuk penderitaan kekal di neraka.


"JANGAN BERMAIN DENGANKU!"



GO TO PART 5

https://dee-arnetta.blogspot.com/2020/11/part-5-jangan-bermain-denganku.html?m=1
























Komentar

  1. tensinya perlu dinaikkan mbak. Emosi dan dramanya. Semangat Mbak Dea..

    BalasHapus
  2. Makin kesini aku jadi penasaran, dirimu dapat ide darimana🤔

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkw asli, tadinya mau nulis apa jadinya lain 😁

      Hapus
  3. Awalnya mikir horor tapi lama2 mengandung mistery dan kriminal 👍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer